Berita Papua, Jayapura — Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat seluruh provinsi di wilayah kerja Kantor Perwakilan Bank Indonesia (KPw BI) Provinsi Papua mengalami inflasi pada April 2026.
Kondisi ini tetap terjaga seiring normalisasi permintaan pasca-Hari Besar Keagamaan Nasional (HBKN) Idul Fitri, meskipun sedikit meningkat akibat kenaikan harga bahan bakar avtur dan BBM non-subsidi serta belum masuknya periode panen raya lokal untuk komoditas hortikultura.
Berdasarkan data yang dirilis BI, inflasi bulanan (month-to-month/mtm) tertinggi terjadi di Provinsi Papua sebesar 0,98 persen, disusul Papua Selatan 0,94 persen, Papua Pegunungan 0,77 persen, dan Papua Tengah 0,21 persen.
Inflasi Tahunan Tertinggi di Papua Pegunungan
Secara tahunan (year-on-year/yoy), Papua Pegunungan mencatat inflasi tertinggi sebesar 4,89 persen, diikuti Papua (3,80 persen), Papua Selatan (3,34 persen), dan Papua Tengah (1,53 persen).
Sementara untuk inflasi tahun berjalan (year-to-date/ytd), Papua Pegunungan kembali tertinggi dengan 3,81 persen, lalu Papua Selatan 2,98 persen, Papua 1,39 persen, dan Papua Tengah 0,16 persen.
Komoditas Penyumbang Inflasi Tertinggi
Provinsi Papua didorong oleh peningkatan harga ikan tuna (andil 0,46 persen mtm), angkutan udara (0,32 persen mtm), dan tomat (0,13 persen mtm). Sementara penahan inflasi berasal dari penurunan harga daging ayam ras, emas perhiasan, dan buah pinang.
Provinsi Papua Selatan dipicu oleh kenaikan harga angkutan udara, sawi hijau, dan kangkung. Adapun penahan inflasi berasal dari emas perhiasan, cabai merah, dan ikan mujair.
Provinsi Papua Tengah utamanya didorong bawang merah, tomat, dan angkutan udara, sementara tertahan oleh cabai rawit, emas perhiasan, dan daging ayam ras.
Provinsi Papua Pegunungan mengalami tekanan dari angkutan udara, tomat, dan beras, sedangkan penurunan harga ketela rambat, telur ayam ras, dan emas perhiasan membantu menahan laju inflasi.
4 Strategi Pengendalian Inflasi
KPw BI Provinsi Papua bersama mitra kerja strategis terus memperkuat sinergi pengendalian inflasi melalui pendekatan 4K:
1. Keterjangkauan Harga – Melalui Gerakan Pangan Murah (GPM) secara berkala di seluruh provinsi dan tiga DOB bersinergi dengan pemda, Bulog, dan mitra terkait.
2. Ketersediaan Pasokan – Dukungan sarana dan prasarana peningkatan produksi serta distribusi diberikan kepada kelompok tani di Papua Tengah untuk komoditas aneka cabai dan hortikultura.
3. Kelancaran Distribusi – Fasilitasi koordinasi dengan pelaku usaha dan instansi terkait untuk mengatasi hambatan distribusi, termasuk dukungan sarana distribusi kepada kelompok tani di Papua Tengah.
4. Komunikasi Efektif – Edukasi upaya pengendalian inflasi melalui kanal media sosial dan kegiatan literasi stabilisasi harga kepada mahasiswa di wilayah kerja KPw BI Provinsi Papua.
(Renaldo Tulak)











