Pendidikan

Disdik Papua Gelar Pelatihan Kompetensi Bahasa Mandarin dan Inggris untuk Siswa SMK

0
×

Disdik Papua Gelar Pelatihan Kompetensi Bahasa Mandarin dan Inggris untuk Siswa SMK

Sebarkan artikel ini
Tampak Kepala Dinas Pendidikan Provinsi Papua, Christian Sohilait bersama jajarannya foto bersama para siswa-siswi pelatihan kompetensi.

Berita Papua, Jayapura — Dinas Pendidikan Provinsi Papua menggelar program pelatihan kompetensi bahasa Mandarin bagi siswa Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) dan bahasa Inggris bagi Sekolah Negeri Khusus (SNK) Sains dan Bahasa Papua pada Selasa (5/8/2025).

Program yang dibuka pada 5 Juni ini merupakan upaya mempersiapkan siswa menghadapi tantangan pendidikan tinggi dan peluang studi ke luar negeri.

Pelatihan bahasa Mandarin berlangsung selama 30 hari, dimulai 16 Juni hingga 29 Juni dengan 7 peserta offline dari SMK Negeri 2 Jayapura. Sementara pelatihan bahasa Inggris dilaksanakan 1-31 Agustus selama 30 hari dengan 16 peserta.

Kepala Dinas Pendidikan Provinsi Papua, Christian Sohilait menjelaskan, pelatihan bahasa Inggris dan Mandarin ini dilakukan untuk menjawab tantangan masuknya siswa ke perguruan tinggi.

“Beberapa universitas mengharuskan tes TOEFL (Test of English as a Foreign Language) dan IELTS (International English Language Testing System),” ujar Sohilait.

Menurutnya, sertifikat tes berlaku selama dua tahun dan dikhususkan bagi siswa kelas 12, mengingat setelah lulus mereka akan melanjutkan ke perguruan tinggi. Program ini juga ditujukan bagi siswa SMK bidang sains dan bahasa yang berminat melanjutkan pendidikan ke luar negeri.

Pelatihan bahasa Mandarin memiliki latar belakang khusus terkait kerja sama internasional. Pada 2020, Pemerintah Provinsi Papua telah menandatangani MOU dengan Pemerintah China untuk pengiriman 30 siswa belajar di Liming University, China.

“Pemerintah Papua menyiapkan siswa agar mampu berbahasa Mandarin. Setelah pelatihan dasar ini, mereka akan mengikuti pelatihan selama satu tahun di China sebelum melanjutkan ke universitas,” kata Sohilait.

Tahun ini, Papua mengirim 11 siswa ke China, dengan mayoritas berasal dari SMK dan sebagian dari SMA. Meski kuota tersedia 30 siswa, peminat masih terbatas.

Terkait pembiayaan, Sohilait menjelaskan bahwa Pemerintah China memberikan beasiswa yang mencakup tempat tinggal dan biaya pendidikan. Namun, biaya keberangkatan hingga biaya hidup di China menjadi tanggung jawab orang tua siswa.

“Tahun-tahun sebelumnya pemerintah menyiapkan biaya hidup, namun tahun ini karena efisiensi, kami tidak menyiapkan bantuan hidup selama di China,” ungkapnya.

Berdasarkan data yang dihimpun, rata-rata biaya hidup di China berkisar Rp1,3 juta hingga Rp2,5 juta per bulan, tergantung gaya hidup masing-masing siswa.

(Redaksi)