Kabupaten Jayapura

Festival Danau Sentani ke-XV Ajak Anak Muda Papua Jadi Pelaku Budaya, Bukan Sekadar Penonton

0
×

Festival Danau Sentani ke-XV Ajak Anak Muda Papua Jadi Pelaku Budaya, Bukan Sekadar Penonton

Sebarkan artikel ini
Tampak Festival Danau Sentani ke-XV Resmi.

Berita Papua, Sentani — Festival Danau Sentani (FDS) ke-XV resmi dijadwalkan berlangsung pada 3–5 Agustus 2026 mendatang di Pantai Khalkote, Kampung Asei Besar, Distrik Sentani Timur, Kabupaten Jayapura. Mengusung tema “Budayaku adalah Hidupku”, festival tahun ini tidak sekadar meramaikan acara, tetapi juga menjadi ajang edukasi bagi generasi muda Papua.

Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Jayapura, Elisa Yarusabra menjelaskan bahwa pesan utama FDS ke-XV adalah mengajak anak muda Papua untuk memahami arti mendalam dari tema tersebut.

“Ini edukasi untuk mengajak anak muda Papua memahami arti dari: Budayaku adalah Hidupku,” ujarnya kepada wartawan di Sentani, Kamis (30/4/2026).

Elisa menyoroti makna di balik kemunculan Bupati Jayapura, Yunus Wonda dan Wakil Bupati Haris Richard S. Yocku yang tampak dalam flayer resmi festival dengan mengenakan seragam adat.

Menurutnya, itu menunjukkan bahwa pemerintah hadir melayani masyarakat adat sekaligus membuktikan bahwa orang asli Papua mampu membangun daerahnya sendiri.

“Gambar kedua pimpinan kepala daerah adalah tanda bahwa pemerintah hadir untuk melayani, mendorong, dan memberdayakan masyarakat adat membangun di atas dasar budayanya. Karena budaya adalah identitas dan peradaban yang harus dipelihara dari generasi ke generasi,” jelas Elisa.

Hal ini, kata dia, sejalan dengan visi Kabupaten Jayapura: Kasih Mempersatukan Perbedaan, untuk mewujudkan Jayapura yang aman, nyaman, mandiri, dan berkelanjutan.

Elisa juga memaparkan bahwa sejumlah logo resmi turut menghiasi flayer FDS ke-XV, antara lain “Pesona Indonesia”, “Papua Paradise”, dan “Karisma Event Nusantara (KEN)”.

Kehadiran logo-logo tersebut menandakan bahwa Festival Danau Sentani telah masuk dalam kalender event nasional.

“Artinya, tarian, ukiran, kuliner, dan atraksi di Pantai Khalkote pada 3–5 Agustus 2026 menjadi panggung ekonomi,” terangnya.

Lebih lanjut, Elisa menjelaskan bahwa latar Danau Sentani dan Gunung Cycloop dalam desain festival juga mengandung pesan mendalam. Festival besar yang identik dengan banyak perahu dan pengunjung ramai itu menjadi bukti bahwa budaya Sentani hidup karena danaunya hidup.

“Itu bukti adat, seni, dan alam satu paket. Bagi orang Papua, budaya adalah napas hidup,” tegasnya.

Ia menambahkan bahwa flayer tahun ini menampilkan penari dan perahu di atas Danau Sentani, serta ukiran khas Sentani sebagai simbol identitas budaya.

Di akhir pernyataannya, Elisa Yarusabra menyampaikan ajakan tegas kepada generasi muda Papua.

“Anak muda yang menghargai dan mencintai budayanya, dengan sendirinya akan menghargai budaya orang lain. Mereka akan hidup berdampingan secara aman dan nyaman,” ujarnya.

“Anak muda jangan hanya jadi penonton. Tapi harus jadi seniman yang mencintai budaya karena itu jati diri,” pungkasnya.

(Yan Mofu)