Berita Papua, Sentani — Di sela hiruk-pikuk Cafe Apollo, Jalan Tabita Pasar Baru Sentani, Sabtu (27/6/2026), Yo Ondofolo Besar Kampung Babrongko, Ramses Wally, melontarkan kritik sekaligus secercah harapan untuk kebangkitan Persipura Jayapura.
Di tengah keterpurukan tim kebanggaan tanah Papua di Liga 2, Ramses meminta Manajemen Mutiara Hitam untuk mencontoh sikap bintang dunia Lionel Messi: kembali ke kampung halaman dan berjuang demi kehormatan bangsa, bukan semata-mata demi uang.
Bagi Ramses, cinta tanah air harus menjadi fondasi utama kebangkitan sepak bola Papua.
“Messi Tolak Triliunan, Pilih Argentina. Pemain Papua Harus Tolak Zona Nyaman, Pilih Persipura”
Ramses mengaku mengidolakan Lionel Messi bukan karena faktor kedekatan Gubernur Mathius Fakhiri dengan Argentina, melainkan karena pola juangnya yang patut ditiru.
“Messi bisa berjuang dan mengembangkan diri hingga menjadi pemain top dunia. Spanyol menawarinya uang triliunan, tetapi motivasi Messi berbeda. Ia merasa Argentina adalah negaranya, leluhurnya ada di Argentina,” ujar Ramses.
Ia menilai, jika Messi egois dan hanya mengejar kekayaan pribadi, ia sudah bisa menjadi orang terkaya di dunia. Namun, ia memilih kembali untuk membangun Argentina karena baginya, Argentina adalah harga diri bangsanya.
Filosofi itu, menurut Ramses, selaras dengan nilai luhur orang Sentani, Yora Makahande, yang berarti “kembali ke kampung dan membawa kemenangan”.
“Messi menunjukkan kepada dunia bahwa dia orang Argentina dan bermain untuk Argentina. Dia kembali untuk membawa kemenangan bagi negara dan bangsanya,” tegasnya.
Untuk memperkuat argumennya, Ramses mengungkit sejarah keemasan sepak bola Papua di era kolonial Belanda tahun 1950-an. Saat itu, klub-klub lahir dari kampung-kampung, bukan dari kantor.
“Belanda membentuk kesebelasan tidak seperti sekarang. Mereka mulai dari kampung. Di Enggros ada persatuan sepak bola kampung, begitu pula di Tobati, Nafri, dan Sentani. Setiap kampung punya klub: Yoka, Asei, Babrongko, hingga Putali,” jelasnya.
Di sanalah, lanjut Ramses, Belanda menanamkan nilai persatuan dan kesatuan melalui olahraga yang dimulai dari tingkat paling bawah, agar para pemuda mencintai kampung halamannya sejak lahir.
Melihat Persipura yang masih terpuruk di kasta kedua, Ondoafi Babrongko memberi tiga catatan keras untuk segera diimplementasikan:
1. Panggil Pulang Anak Papua: Seperti Messi yang rela meninggalkan klub demi membela negaranya, pemain Papua yang tersebar di berbagai klub Indonesia harus dipanggil pulang untuk memperkuat Persipura.
2. Berhenti Cari Pemain Luar, Rekrut Putra Asli Papua: Manajemen harus fokus memanggil pemain Papua yang bermain di klub lain. Hanya Persipura yang mampu melahirkan bintang-bintang sepak bola nasional dari Bumi Cenderawasih.
3. Hapus Praktik Pemain Titipan: Rekrutmen harus murni berdasarkan bakat dan kualitas, bukan karena hubungan saudara atau suap. Ramses menegaskan agar tidak ada lagi pemain yang hanya menjadi penghias bangku cadangan.
Ramses mengingatkan bahwa Persipura adalah raja di era Liga Indonesia dengan koleksi 4 gelar juara (2005, 2009, 2011, dan 2013). Bahkan, beberapa catatan menyebutkan Mutiara Hitam pernah mengoleksi 5 titel juara.
“Dengan pengalaman itu, Persipura seharusnya tidak hanya berhenti di 4 bintang. Di setiap kompetisi, Persipura bisa juara. Sekarang malah turun ke Liga 2. Padahal tidak perlu,” sesalnya.
Ia menutup pernyataannya dengan sebuah analogi: “Argentina baru punya 3 bintang Piala Dunia, tapi levelnya kelas dunia. Persipura harus kembali, cintai tanah air dan kampung halaman.”
(Yan Mofu)











