Kabupaten Jayapura

Ondofolo di Sentani Kompak Dukung 2 Tahun Kepemimpinan Presiden Prabowo: Program MBG Sangat Menyentuh Papua, Tapi Perlu Evaluasi Pelaksana di Lapangan

0
×

Ondofolo di Sentani Kompak Dukung 2 Tahun Kepemimpinan Presiden Prabowo: Program MBG Sangat Menyentuh Papua, Tapi Perlu Evaluasi Pelaksana di Lapangan

Sebarkan artikel ini
Tampak Ondofolo Kampung Puay Yacob Fiobetauw, Ondofolo Kampung Atamali Septinus Ibo, Ondofolo Kampung Kwadeware Nikson Marweri, Ondofolo Kampung Yobeh Bernard Felle, dan Ondofolo Ifar Besar Wiliam Yoku saat menyatakan dukungan.

Berita Papua, Sentani — Dukungan penuh terhadap 2 tahun kepemimpinan Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto, datang dari para pimpinan adat di wilayah Sentani.

Apresiasi tersebut disampaikan secara bersama oleh Ondofolo Kampung Puay Yacob Fiobetauw, Ondofolo Kampung Atamali Septinus Ibo, didampingi Ondofolo Kampung Kwadeware Nikson Marweri, Ondofolo Kampung Yobeh Bernard Felle, dan Ondofolo Ifar Besar Wiliam Yoku, di Sentani, Kabupaten Jayapura, Kamis (15/10/2026).

Menurut Ondofolo Puay, Yacob Fiobetauw, banyak program yang telah dicanangkan Presiden Prabowo dinilai sangat positif dan menyentuh langsung kebutuhan masyarakat, terutama masyarakat di Tanah Papua.

“Ada beberapa hal yang beliau programkan dan ini sangat positif untuk masyarakat kita. Pekerjaan-pekerjaannya itu sangat menyentuh masyarakat, terlebih kami di Papua sudah tersentuh dengan baik,” ujarnya.

Ia berharap program-program pembangunan tersebut ke depan lebih ditingkatkan lagi untuk mempererat persatuan dan kesatuan bangsa.

Salah satu program yang mendapat sorotan positif adalah program strategis nasional Makan Bergizi Gratis (MBG). Program ini dinilai sangat baik untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia dan masa depan pemimpin bangsa.

“Program ini sangat positif untuk meningkatkan IQ generasi penerus bangsa kita. Memang dalam menjalankannya banyak tanggapan dari masyarakat, tetapi programnya secara umum sudah sangat baik,” kata Yacob.

Meski demikian, ia menegaskan evaluasi perlu dilakukan pada tataran pelaksana di lapangan, bukan pada program dari pusat.

“Yang perlu dievaluasi adalah pengelolanya. Program dari pusat sudah bagus, yang perlu diperbaiki adalah teknis pelaksanaan di lapangan, misalnya pelaksanaan MBG, supaya tidak lagi menimbulkan persoalan di masyarakat,” jelasnya.

Selain itu, ia juga menekankan pentingnya menjaga toleransi antar umat beragama sebagai modal menjaga kebersamaan dalam bingkai Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Pada kesempatan yang sama, para Ondofolo juga memberikan catatan kritis terhadap pendekatan pembangunan yang selama ini dijalankan oleh pemerintah daerah di Papua.

Sebagai penerima manfaat, masyarakat adat menilai pendekatan yang dilakukan pemerintah daerah masih jauh dari harapan.

“Pendekatan pembangunan dan pendekatan sosial kepada masyarakat selama ini kami sebagai penerima manfaat merasa itu sangat tidak sesuai. Sangat jauh dari harapan,” ujarnya.

Berbeda dengan pemerintah daerah, mereka justru mengapresiasi pendekatan pembangunan yang dilakukan oleh jajaran TNI dan Polri di Kabupaten Jayapura yang dinilai lebih menyentuh dan diterima langsung oleh masyarakat adat.

“Yang sekarang benar-benar bagus itu apa yang dilakukan oleh para angkatan kita, militer dan kepolisian. Pemerintah daerah di Papua perlu belajar pendekatan seperti apa yang diharapkan masyarakat dari TNI-Polri,” tegasnya.

Terkait pengelolaan dana Otonomi Khusus (Otsus) Papua, para Ondofolo mengaku masyarakat di kampung-kampung hingga kini belum merasakan manfaat nyata.

Mereka mengusulkan agar Presiden Prabowo mengevaluasi skema penyaluran dana Otsus agar dialokasikan langsung kepada tokoh-tokoh adat dan lembaga adat.

“Program Otsus sampai sekarang masyarakat tidak merasakan apa itu Otsus. Kami dari Sentani usul supaya dana Otsus itu ditransfer langsung dari pusat ke tokoh-tokoh adat, ke lembaga-lembaga adat di Papua,” usulnya.

Ondofolo Atamali, Septinus Ibo menambahkan, jika dalam pelaksanaan program ada masalah, yang perlu diperbaiki adalah metodenya, bukan programnya, karena sudah ada aturan hukumnya.

Ia juga menyoroti kondisi ekonomi masyarakat di kampung-kampung yang saat ini terpuruk akibat dana desa dan dana kampung yang belum cair, sehingga pembangunan terhenti.

“Di kampung dibangun oleh dana desa, tapi sementara dana desanya sudah tidak ada. Jadi pembangunan diharapkan dari dana kampung, tapi belum ada. Masyarakat belum tahu kendalanya di mana, perlu diklarifikasi,” kata Septinus.

Untuk mengatasi keterpurukan ekonomi, ia berharap adanya perhatian khusus berupa bantuan sosial seperti Bantuan Langsung Tunai (BLT) dan sembako seperti di era Presiden Jokowi.

Bahkan ia mengusulkan dana Otsus diberikan dalam bentuk tunai dan dikucurkan langsung kepada masyarakat.

“Ada baiknya dana Otsus ini diberikan dengan uang tunai, dikucurkan langsung. Tidak melalui pemerintah, dari tangan ke tangan nanti nilainya bisa hancur. Yang paling penting perhatikan masyarakat dulu,” pungkasnya.

Di akhir pernyataannya, kelima Ondofolo tersebut menyampaikan selamat memperingati 2 tahun kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto.

“Atas perhatian dari kita semua, kami mengucapkan selamat merayakan 2 tahun kepemimpinan Bapak sebagai Presiden di Negara Kesatuan Republik Indonesia,” tutup Yacob Fiobetauw.

(Yan Mofu)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *