Berita Papua, Jayapura — Puluhan sopir angkutan umum dan taksi online di Kota Jayapura menggelar aksi demo damai di Taman Imbi pada Jumat (25/9/2026), menuntut keadilan atas kematian seorang sopir, Aris Sanda, yang tewas ditembak kelompok bersenjata OPM/KKB di jalur Trans-Papua Wamena-Nduga, Kabupaten Jayawijaya, Papua Pegunungan, pada Selasa (15/9/2026).
Massa yang tergabung dalam Organda dan Komunitas Supir Port Numbay tiba menggunakan 50an kendaraan umum dan taksi online, menuntut Kepolisian Daerah (Polda) Papua memberikan keadilan dan keamanan bagi para sopir, baik angkutan umum maupun taksi online, di wilayah Papua dan Papua Pegunungan, serta memberi sanksi seberat-beratnya kepada pelaku agar tidak ada korban serupa.
Koordinator Lapangan Angkutan Umum Kota Jayapura, Hatriani Pasila, dalam orasinya menegaskan bahwa para sopir bukan sekadar pekerja jalan raya, melainkan bagian dari masyarakat yang berhak atas rasa aman dan perlindungan hukum.
“Kami, Organda dan Komunitas Supir Port Numbay, menyampaikan keprihatinan dan sikap atas terjadinya penembakan terhadap seorang supir lajur di Jalan Trans Wamena. Peristiwa tersebut tidak hanya menimbulkan duka bagi keluarga korban, tetapi juga menimbulkan rasa khawatir dan ketidakamanan bagi para pengemudi yang setiap hari menjalankan aktivitasnya,” ujarnya.

Dalam pernyataan sikapnya, massa aksi menyoroti 3 poin utama. Pertama, kepada Kapolda Papua, mereka menuntut pengungkapan kasus secara profesional, transparan, dan berdasarkan hukum.
“Kami meminta Polda Papua segera mengungkap secara profesional, transparan, dan berdasarkan hukum kasus penembakan terhadap supir lajur di Jalan Trans Wamena serta melakukan upaya penegakan hukum terhadap pihak yang berdasarkan hasil penyelidikan dan alat bukti terbukti sebagai pelaku,” tegas Hatriani.
Ke-2, kepada Komnas HAM RI, massa meminta pemantauan sesuai kewenangan terhadap peristiwa tersebut, khususnya terkait hak atas rasa aman dan perlindungan HAM bagi para pengemudi angkutan umum.
“Kami menegaskan bahwa para supir juga memiliki HAM yang wajib dihormati dan dilindungi. Kami berhak bekerja dengan aman, bepergian tanpa rasa takut, serta memperoleh perlindungan ketika menjalankan tugas dan mencari nafkah untuk keluarga,” lanjutnya.
Poin ke-3, para sopir memohon perlindungan bagi keselamatan mereka dan keluarga yang bergantung pada penghasilan harian.
“Kami para supir memiliki anak, istri, orang tua, dan keluarga yang bergantung pada penghasilan kami. Ketika kami bekerja di jalan, keluarga kami menunggu kami kembali dengan selamat,” tegas Hatriani dalam orasinya.
Aksi yang berlangsung tertib ini berakhir pukul 11.00 WIT. Massa kemudian membubarkan diri dan meninggalkan lokasi dengan aman pada pukul 11.10 WIT.
Diketahui, Insiden penembakan oleh kelompok bersenjata terhadap Aris Sanda terjadi di sekitar Danau Habema, Distrik Trikora, Provinsi Papua Pegunungan.
(Renaldo Tulak)











