Beritapapua.co, Sentani — Kasus penganiayaan Kepala Dinas Pertanahan, Perumahan dan Kawasan Pemukiman (DP2KP) Kabupaten Jayapura, WF, di Kampung Asei Besar, Sentani Timur, Selasa (5/5/2026), dinilai penuh rekayasa.
Hal itu disampaikan ayah korban, Ramses Wally yang juga tokoh masyarakat Kabupaten Jayapura.
“Peristiwa itu seakan-akan direkayasa oleh kelompok atau oknum tertentu. Sebenarnya tidak perlu terjadi karena anak kami sedang melaksanakan tugas negara,” tegasnya, Kamis (7/5/2026).
Menurutnya, WF dianiaya saat mengenakan pakaian dinas dan menjalankan tugas kedinasan.
“Jabatan yang dia emban itu jabatan negara. Tidak perlu dengan kekerasan. Kalau ada persoalan, datang, dekati dan bicara baik-baik,” ujarnya.
Ia menyebut saat kejadian hadir sejumlah pengusaha lokal dan pejabat Kabupaten Jayapura.
“Kepala Distrik Sentani Kota ada di sana. Dia tidak sendiri, didampingi,” ungkapnya.
Ramses, Menyayangkan insiden terjadi di tengah persiapan pembangunan dan menjelang Festival Danau Sentani.
“Ini mau melaksanakan pembangunan, apalagi menghadapi festival. Harusnya diselesaikan dengan dialog,” katanya.
Ia menilai kasus dipicu kepentingan kelompok pengusaha dan oknum pejabat.
“Ada pengusaha yang punya kepentingan, ada pejabat yang punya kepentingan. Hal-hal seperti ini tidak perlu terjadi,” tegasnya.
Karena itu, ia akan melaporkan kejadian tersebut kepada Bupati Jayapura.
“Saya akan sampaikan kepada Bupati untuk menegur dan mengevaluasi pejabat-pejabat yang modelnya seperti peman. Kehadiran pemerintah harus nyata dalam pelayanan, bukan rekayasa,” ujarnya.
Ia juga menyoroti praktik kubu-kubuan di tubuh Pemkab Jayapura.
“Tidak boleh lagi ada kubu bupati, kubu wakil bupati. Perintah itu satu. Perintah bupati adalah perintah wakil bupati yang wajib dihormati dan dilaksanakan bersama demi pelayanan,” katanya.
Sang ayah mengibaratkan bupati dan wakil bupati seperti suami istri yang memimpin keluarga besar.
“Mereka memimpin agar masyarakat bisa hidup baik dan layak. Jangan ada gerakan di luar, nanti rakyat kacau,” ucapnya.
Ia berharap ke depan tidak ada lagi kotak-kotakan di pemerintahan.
“Bupati dan wakil bupati harus mampu menciptakan keluarga yang harmonis dan bahagia. Peristiwa hari Selasa itu tidak boleh terulang,” pungkasnya.
Sebelumnya, Kapolres Jayapura AKBP Dionisius V.D.P. Helan memastikan pelaku berinisial DO sudah diamankan. Kasus di picu perselisihan soal larangan penggunaan akses jalan Khalkote.
(Yan Mofu)











