Papua

Terinspirasi Don Hasman, Agus Tanati Dirikan Galeri Black Orchid: Wadah Diskusi dan Karya Fotografer

0
×

Terinspirasi Don Hasman, Agus Tanati Dirikan Galeri Black Orchid: Wadah Diskusi dan Karya Fotografer

Sebarkan artikel ini
Tampak isi dalam dalam Galeri Black Orchid milik Gusti Tanati.

Berita Papua, Jayapura — Sebuah galeri foto bernama Black Orchid berdiri di Kota Jayapura sejak tahun 2018. Keberadaannya tidak lepas dari inspirasi seorang fotografer senior Indonesia, Don Hasman, yang pernah tinggal di lokasi yang sama sebelum akhirnya bertransformasi menjadi galeri.

“Don Hasman pernah tinggal di Galeri Foto Black Orchid, akhirnya saya terinspirasi untuk membuat Galeri Black Orchid,” ujar Owner Galeri Black Orchid, Agus Tanati, kepada Beritapapua.co, Kamis (23/4/2026).

Sebelum bernama Galeri Black Orchid, lokasi tersebut merupakan base camp atau markas komunitas fotografer Balobbe di Kota Jayapura. Di tempat itulah para anggota komunitas berkumpul, menyortir hasil jepretan, mengedit foto, serta berangkat dan kembali setelah melakukan perburuan foto (hunting).

“Dulu untuk teman-teman komunitas fotografer Balobbe, itu mereka punya base camp yang sekarang ini jadi Galeri Black Orchid. Setiap foto, setiap hunting, mereka tetap kumpul di situ,” kenang Agus.

Pria yang akrab disapa Gusti itu mengaku, ide untuk mendirikan galeri foto baru muncul setelah ia mengikuti pelatihan dan workshop fotografi di Jakarta. Selama di ibu kota, ia melihat banyak galeri milik teman-teman fotografer.

Tampak seorang remaja sedang mengamati beberapa foto-foto karya jurnalistik didalam Galeri Black Orchid.

“Di sana lihat masuk keluar galeri, teman-teman di Jakarta punya galeri. Oh, bagus juga kalau bikin di Papua. Itu jadi motivasi,” katanya.

Sepulang dari Jakarta, pada tahun 2018, Agus mulai membangun dan menata Galeri Black Orchid. Sejak saat itu, galeri tersebut tidak hanya menjadi tempat memajang foto, tetapi juga ruang diskusi dan wadah berkumpul bagi para pegiat fotografi, khususnya anak muda.

“Rencana ke depan, galeri ini sebagai tempat diskusi, wadah untuk kita berkumpul, bikin karya-karya, anak muda diskusi foto, diskusi aspirasi mereka untuk hobi foto,” jelas Gusti.

Foto-foto yang ditampilkan di Galeri Black Orchid didominasi isu-isu visual budaya, selain itu ada pula dokumentasi pendidikan, kesehatan, dan foto-foto jurnalistik. Sebanyak enam orang fotografer pernah berpameran di galeri ini, masing-masing menampilkan sekitar 8 hingga 12 karya. Total lebih dari seratus foto kini terpajang di galeri.

“Yang sekarang masih, kita angkat isu-isu visual budaya,” ujarnya.

Sejak berdiri tahun 2018 hingga 2026, Galeri Black Orchid telah menggelar pameran sebanyak 4 kali di dalam galeri itu sendiri. Selain itu, Gusti dan rekannya juga mengikuti 8 kali pameran di luar galeri, diantaranya:

· Tahun 2023 di Sentani (lokasi banjir bandang, rumah Ibu Sekda Jayapura Hana Hikoyabi saat itu)

· Di WWF (juga mengangkat isu banjir bandang 2024)

· Di Asosiasi Wartawan Papua – AWP (tahun 2024)

· Di Taman Imbi Jayapura (tahun 2025)

· Di Rumah Bakau (tahun 2025)

· Festival Reggae di Cemara (2026)

· Festival Wartawan Papua di Nabire (Tahun 2026)

· Festival Sagu Celo Sagu (kerja sama dengan Kapolres, 2026)

Secara total, Gusti menyebut telah 12 kali terlibat dalam pameran, baik di dalam maupun luar galeri.

Tampak lokasi Galeri Black Orchid dari arah bawah.

Kendala utama yang dihadapi di Papua adalah biaya dan fasilitas pencetakan yang masih terbatas dibandingkan dengan daerah lain. Meski demikian, Gusti memiliki harapan besar untuk Galeri Black Orchid ke depan.

“Harapan saya, galeri ini bisa mengeluarkan karya-karya. Saya ingin juga membuat buku-buku foto atau buku-buku dari Papua. Untuk setiap karya yang kita liput atau foto, kita ingin membuat buku-buku foto,” ungkapnya.

Ia bercita-cita ketika menggelar pameran, sekaligus dijual buku foto hasil pameran tersebut.

“Ketika pas orang datang berkunjung, kita sudah jual buku-buku foto hasil pameran. Jadi ketika mereka pulang, buku fotonya sudah bisa di beli,” pungkas Agus Tanati yang juga berprofesi sebagai fotografer di media nasional Antara Foto.

(Renaldo Tulak)