Berita Papua, Jayapura — Kementerian Pertanian (Kementan) menegaskan komitmennya mendukung penuh program cetak sawah rakyat di Papua. Saat ini, fokus utama diarahkan pada tahapan survei, identifikasi, dan desain (SID) yang menjadi fondasi penentu keberhasilan program sebelum masuk ke konstruksi.
Target cetak sawah di Papua pada tahun ini mencapai 30.000 hektare. Direktur Jenderal Lahan dan Irigasi Pertanian Kementerian Pertanian, Hermanto, menyatakan bahwa proses SID masih terus berjalan secara bertahap.
“Kami akan lakukan secara bertahap sampai sesuai target kurang lebih sekitar 30.000 hektare tahun ini, dan ini masih dalam proses SID,” kata Hermanto usai rapat khusus dengan Gubernur Papua Matius D. Fakhiri di Kota Jayapura, Selasa (21/4/2026).
Menurut Hermanto, tahapan SID mencakup tiga aspek krusial: pemetaan kondisi lahan, aspek teknis pengairan, serta kesiapan sosial masyarakat. Proses ini dilakukan secara detail untuk mengantisipasi kendala di lapangan, termasuk potensi konflik lahan.
“Ini yang sedang berproses dan sebagian sudah selesai, dan akan segera dilakukan eksekusi untuk konstruksi,” ujarnya.
Hermanto juga meminta pemerintah daerah aktif mendukung proses SID, terutama dalam sosialisasi kepada masyarakat pemegang hak ulayat. Dukungan ini dinilai penting agar pelaksanaan di lapangan berjalan lancar tanpa hambatan sosial.
“Kami harapkan dukungan pemerintah daerah untuk sosialisasi kepada masyarakat, sehingga pelaksanaan di lapangan tidak menemui hambatan,” tegasnya.
Untuk tahap awal, program cetak sawah akan dimulai di lahan seluas 15.000 hektare. Pemerintah menargetkan penyelesaian tahap awal pada Agustus 2026, sehingga lahan dapat segera ditanami pada awal September.
“Sehingga target penyelesaiannya paling lambat bulan Agustus, sehingga bisa langsung ditanam di awal September,” kata Hermanto.
Sementara itu, Gubernur Papua Matius D. Fakhiri menyampaikan apresiasi atas perhatian Presiden Prabowo Subianto melalui Kementerian Pertanian.
Ia menilai program cetak sawah ini sebagai langkah strategis untuk memperkuat ketahanan pangan sekaligus meningkatkan kesejahteraan masyarakat lokal.
Fakhiri menekankan bahwa program ini memberikan manfaat nyata karena lahan yang digunakan berasal dari masyarakat dan hasil produksinya juga kembali untuk masyarakat.
“Hal ini menciptakan siklus ekonomi yang langsung dirasakan dampaknya sendiri, dari masyarakat untuk masyarakat,” pungkas Fakhiri.
Dengan pendekatan bertahap berbasis SID, Kementerian Pertanian optimistis program cetak sawah rakyat di Papua dapat berjalan efektif, berkelanjutan, dan minim risiko.
(Renaldo Tulak)











