Kabupaten Jayapura

Bukan Janji, Bukti: Franklin Wahey Borong 136 Tiket Persipura Untuk Warga Kampung Puay Yang Terdampak Banjir

0
×

Bukan Janji, Bukti: Franklin Wahey Borong 136 Tiket Persipura Untuk Warga Kampung Puay Yang Terdampak Banjir

Sebarkan artikel ini
Anggota DPR Provinsi Papua Komisi IV, Franklin Wahey saat memberikan keterangan pers.

Berita Papua, Sentani — Di tengah bencana banjir Danau Sentani yang merendam sejumlah kampung, Anggota Komisi IV DPR Provinsi Papua, Franklin Wahey, justru membawa 136 warga Kampung Puay ke Stadion Lukas Enembe untuk menyaksikan laga Persipura Jayapura vs PSIS Semarang, Sabtu (18/4/2026).

Semua tiket diborong langsung oleh Franklin sebagai bentuk kepedulian kepada warganya.

“Saya beli ini tidak ada kepentingan apa-apa. Ini masyarakat saya, anak-anak dari Kampung Puay,” tegas Franklin kepada wartawan di Sentani, Rabu (22/4/2026).

Cerita bermula dari naiknya debit air Danau Sentani yang merendam rumah-rumah warga. Sebagai anak Kampung Puay yang memiliki Kali Jefuri, Franklin menggerakkan warga untuk bergotong royong membersihkan aliran sungai.

“Masyarakat dengan spontanitas dan kerelaan hati turun bersihkan Kali Jefuri. Sampai hari ini masih bersihkan,” ujarnya.

Saat istirahat kerja bakti, kabar bahwa Persipura akan bertanding di Stadion Lukas Enembe sampai ke telinga warga. Mereka pun meminta Franklin untuk mengajak mereka menonton.

“Mereka minta ke Kak Franklin, ‘kita nonton Persipura’. Ada yang bilang, ‘anak kita menonton, kita tidak pernah ke stadion’. Sebagai pejabat saya terpukul, saya sedih,” tuturnya.

Jumlah warga yang ikut kerja bakti sebanyak 57 orang, ditambah 21 ibu-ibu yang memasak, serta anak-anak. Total 136 orang akhirnya diberangkatkan. Awalnya Franklin membeli 100 tiket, sisanya dibeli langsung di stadion.

“136 tiket yang saya sudah beli,” tegasnya.

Bagi sebagian besar warga, ini merupakan pengalaman pertama masuk Stadion Lukas Enembe yang megah. Sebelum berangkat, mereka berkumpul di Pondopo dan berdoa bersama.

“Tuhan kami mau nonton, lindungi kami. Kami datang harus Persipura menang,” kata Franklin menirukan doa warga.

Hasilnya, Persipura berhasil menaklukkan PSIS Semarang dengan skor 3-1. Franklin meyakini kemenangan itu tidak lepas dari doa warga kampungnya. “Itu karena kekuatan doa dari rakyat kita di kampung-kampung.”

Franklin juga menyentil para pejabat lain agar tidak hanya menonton bersama keluarga sendiri. “Jangan kau jadi pejabat, kau pikir istri-anak saja pergi nonton. Kalau kau pejabat, kau dari kampung mana? Turun ke kampung. Beli tiket buat rakyatmu, duduk dengan mereka, berdoa buat Persipura. Karena Persipura adalah harga diri orang Papua.”

Targetnya ke depan, Stadion Lukas Enembe berkapasitas 34-35 ribu penonton harus terisi penuh. “Kemarin 17 ribu penonton. Ke depan kita penuhkan. Seluruh rakyat Papua harus kita himbau datang tanggal 2 Mei. Wajib hukum untuk kita gerakkan. Minta manajemen siapkan tiket sebanyak-banyaknya.”

Ia mengaku sudah menyiapkan diri untuk membeli tiket lebih banyak lagi. “Kalau kemarin saya beli 100 di satu kampung, ke depan saya harus beli berapa kampung lagi. Saya sedang siap,” ujar Franklin.

Di kesempatan yang sama, Franklin mengingatkan arahan Bupati soal prioritas pengusaha asli Papua untuk penunjukan langsung proyek di bawah Rp2 miliar.

“Kalau Bupati sudah bicara, pimpinan OPD, kepala dinas, kabid, kasi harus pintar menerjemahkan itu. Jangan malas tahu,” imbuhnya.

Ia meluruskan, bukan berarti proyek Rp2 miliar diberikan utuh. “Kalau kau punya DPA 3 miliar pekerjaan, upayakan pecah-pecahkan. Ada 300 juta tiga paket, 500 juta tiga paket. Kasih pengusaha asli Kenambai-Umbai, Papua. Bukan kasih 2 miliar.”

Franklin meminta OPD mencatat arahan ini sebagai agenda.

“Sehingga ke depan Bupati tidak marah-marah. Kegagalan dan baiknya pemerintahan itu ada di pimpinan OPD, bukan di Bupati dan Wakil Bupati,” bebernya.

Kepada pengusaha asli Papua, ia berpesan tegas. “Kalau sudah dikasih, usahakan kerja yang benar, kerja baik dan bertanggung jawab. Jangan kasih tinggal beban lagi. Kadang kita tuntut pekerjaan tapi tidak kerja sesuai RAB.”

Ia juga meminta OPD berkoordinasi agar proyek terbagi rata.

“Jangan 1 perusahaan dapat 3 pekerjaan di OPD berbeda. Kalau bisa bagi-bagi. Semua harus dapat. Tidak banyak, yang penting semua kebagian,” pungkasnya.

(Yan Mofu)