Berita Papua, Sentani — Bupati Jayapura, Yunus Wonda melakukan kunjungan kerja ke 13 gereja di wilayah Doyo untuk menyerap aspirasi langsung masyarakat, khususnya warga asli Papua dari daerah pegunungan yang selama ini di nilai belum terdata dengan baik, Selasa 19/5/2026
“Pagi tadi saya berkunjung di Sabron. Hari ini saya ada di 13 gereja di wilayah Doyo. Besok saya lanjut ke Taruna, dan terakhir di Toladan hari,” ujarnya
Kunjungan ini juga menjadi bagian dari pendataan jumlah gereja milik masyarakat pegunungan di Kabupaten Jayapura. Sebelumnya, empat gereja telah dikunjungi, dan seluruh proses pendataan ditargetkan selesai pada Jumat mendatang.
“Seluruh gereja masyarakat gunung yang ada di Kabupaten Jayapura akan di data. Jumlah total baru akan diketahui setelah rangkaian kunjungan selesai,” jelas Bupati.
Ia menjelaskan, kunjungan dilakukan karena selama ini masyarakat pegunungan hampir tidak pernah terdata dan sering tidak mendapatkan bantuan pemerintah yang disalurkan melalui distrik maupun kampung.
“Masyarakat kami tidak pernah mengeluh. Mereka sadar, merasa seperti pendatang saja. Tapi sekarang tidak harus terus seperti itu. Pemerintahan harus hadir untuk semua,” tegasnya.
Menurutnya, pembangunan tidak bisa hanya berfokus pada daerah yang sudah maju. Pemerintah wajib hadir dan melayani seluruh wilayah, baik masyarakat asli Papua maupun non-Papua, tanpa perbedaan.
“Semua adalah warga negara dan warga Kabupaten Jayapura yang punya hak sama untuk diperhatikan pemerintah, baik dari sisi kesejahteraan maupun pembangunan,” katanya.
Bupati mengakui, selama lebih dari setahun menjabat, ia lebih banyak menangani masalah di wilayah pesisir, danau, Tanah Merah, Airu, dan Hapsi. Sementara ruang pertemuan dengan masyarakat pegunungan baru dibuka sekarang.
“Baru hari ini saya duduk dengan mereka untuk memastikan target program 2027. Kita tidak lagi hanya menjalankan program dari dinas, tapi belanja masalah dulu. Kami sudah tahu masalah di Kabupaten Jayapura seperti apa,” bebernya.
Hasil kunjungan itu akan dicocokkan dengan usulan yang masuk dalam Musrenbang. Ia menilai, hampir semua usulan masyarakat di Musrenbang memang merupakan persoalan nyata di lapangan. Namun, tidak semua bisa terjawab karena keterbatasan anggaran dan skala prioritas.
Bupati juga menekankan pentingnya menghapus perbedaan antara pesisir dan pegunungan, serta antara pendatang dan masyarakat adat.
“Kita semua warga negara Indonesia yang punya hak sama. Sebagai masyarakat adat pemilik hak ulayat, kami sangat menghormati itu. Itu bentuk penghormatan pemerintah kepada masyarakat hak ulayat,” ujarnya.
Ia mencatat, aspirasi utama masyarakat pegunungan selama kunjungan lebih banyak terkait kebutuhan gereja.
“Masyarakat gunung lebih pada perbaikan gereja. Itu yang jadi pergumulan mereka. Saya harap ke depan kita bisa fokus membantu gereja-gereja di Kabupaten Jayapura secara keseluruhan, supaya pembangunan gedung gereja berjalan dan iman jemaat bertumbuh,” pungkasnya.
Pendataan ini dilakukan agar kebutuhan dan kondisi gereja di wilayah pegunungan dapat teridentifikasi dengan baik, sehingga menjadi dasar dalam penyusunan program pembangunan ke depan.
(Yan Mofu)











