Berita Papua, Sentani — Tokoh adat di Kabupaten Jayapura mengeluarkan imbauan keras agar masyarakat tidak membakar hutan, lahan dan alang-alang di tengah musim kemarau yang memicu kabut asap, kekeringan dan gangguan kesehatan.
Imbauan tersebut datang dari Ondofolo Kampung Sabron Yaru, Nikodemus Yaboisembut, Ondofolo Besar Hedam Kleubeu, Harly Ohe, S.H., dan Sekretaris Jenderal Dewan Adat Suku Sentani (DASS), Barnabas Nukuboy.
Nikodemus mengaku prihatin melihat kondisi alam Papua yang semakin memprihatinkan akibat ulah manusia.
“Lihat ke atas langit sana kabut tutup, lihat ke bawah tanaman hangus. Panas luar biasa, sehingga tanah-tanah jadi kering. Karena ini adalah ulah dari para manusia,” ujar Nikodemus, Jumat (16/10/2026).
Ia mengimbau seluruh masyarakat di Kabupaten Jayapura, Sentani Barat, dari pesisir utara sampai selatan sampai di Buyaka untuk menjaga dusun.
“Dari Kabupaten Jayapura, Provinsi Papua, Ia memohon kepada seluruh masyarakat dan juga semua anak-anak muda,” katanya.
Ia menegaskan, hutan, dusun, gunung dan alang-alang harus dijaga bersama karena merupakan hak semua orang dan warisan untuk anak cucu.
“Jaga dusun baik, jangan dusun jadi tandus. Hutan jangan dibakar dan alang-alang tidak boleh dibakar. Itu mendatangkan malapetaka buat kita semua dan kepada keturunan kita, anak cucu,” tegasnya.
Menurut Nikodemus, Tanah Papua adalah tanah yang penuh kesuburan. Jika dibakar, satwa akan lari dan masyarakat akan kesusahan.
Ia menekankan bahwa imbauannya bukan melarang berkebun, melainkan melarang cara bakar.
“Bukan saya larang kamu punya aktivitas, tapi jangan bakar hutan. Hutan adalah hak kami semua,” ujarnya.
Ia juga mengajak TNI-Polri, masyarakat sipil dan petani untuk bersama menjaga hutan, serta meminta polisi kehutanan di Cagar Alam Cycloop bertindak tegas.
“Polisi-polisi kehutanan juga harus jaga dengan baik dan jangan biarkan siapapun membakar hutan itu, Karena dia akan kena dengan hukum,” tegasnya.
Senada, Ondofolo Besar Hedam Kleubeu, Harly Ohe, S.H., mengimbau warga di wilayah Hedam yang masuk Kota dan Kabupaten Jayapura agar tidak membuka kebun dengan cara dibakar.
“Ia mengimbau kepada seluruh masyarakat saya di wilayah Hedam, baik yang masuk wilayah kota maupun kabupaten untuk tidak boleh membakar hutan ataupun membuat kebun dengan cara bakar hutan, tidak boleh,” ujar Harly Ohe.
Ia menegaskan, pembakaran di musim panas berdampak buruk, menyebabkan polusi udara, mengganggu kesehatan hingga penerbangan.
“Ini musim panas, nanti akan berdampak yang lebih tidak baik lagi seperti yang sekarang sudah terjadi pembakaran di mana-mana yang membuat polusi udara, kesehatan terganggu, penerbangan pun juga terganggu,” katanya.
“Bisa membuka lahan menggunakan parang saja dulu, jangan lakukan pembakaran. Kasihan masyarakat lain, nanti akan terjadi gangguan kesehatan termasuk ISPA, sesak napas,” katanya.
Secara khusus ia meminta agar alang-alang di wilayah Kampung Puay tidak dibakar.
“Terlebih juga alang-alang yang banyak di wilayah Kampung Puay itu, tolong jangan dibakar,” ujarnya.
Terkait penindakan, Harly menyatakan pihaknya bersama TNI-Polri dan masyarakat akan menindak tegas pelaku pembakaran sesuai hukum yang berlaku.
Sementara itu, Sekjen DASS, Barnabas Nukuboy, menyoroti maraknya penebangan kayu liar di wilayah adat, termasuk di kawasan hutan lindung Cycloop.
Menurutnya, para Ondofolo sudah berupaya maksimal menjaga tanah adat dan hutan masing-masing, namun tidak bisa dibiarkan bekerja sendiri tanpa dukungan pemerintah dan aparat.
“Ondofolo seluruhnya itu menjaga. Ondofolo punya tanah, punya masyarakat, punya hutan, itu dia jaga.
Dia sudah sampaikan kepada orang lain tidak boleh bakar hutan dan tidak boleh tebang,” ujar Barnabas.
Ia meminta pemerintah, Dinas Kehutanan dan aparat keamanan untuk bersatu menjaga hutan, dengan membekali setiap Ondofolo aparat dusun dengan dukungan biaya operasional.
“Polisi dusun itu harus ada dan diberikan sedikit biaya dan Pemerintah juga harus siap supaya hutan bisa kita jaga bersama,” k/pungkasnya.
(Yan Mofu)











