Berita Papua, Sentani — Masyarakat adat di Sentani, Kabupaten Jayapura memanfaatkan lahan tidur untuk mendukung program ketahanan pangan nasional yang dicanangkan Presiden Prabowo Subianto.
Salah satunya dilakukan Onfofolo Kampung Kwadeware, Nikson Marweri yang menggarap lahan tidur seluas 20 hektare di belakang rumah yang selama ini tidak produktif.
Program pertanian kelompok ini digagas bersama rekan-rekan dari Nusantara sebagai upaya menjaga ketahanan pangan di tengah fluktuasi harga kebutuhan pokok.
Ondofolo Kampung Kwadeware, Nikson Marweri mengatakan, pihaknya membentuk kelompok tani untuk menjawab arahan Presiden. Namun, mereka masih membutuhkan dukungan dana, pupuk dan tenaga kerja.
“Kami bersatu untuk bikin kelompok pertanian untuk menunjang arahan bapak. Presiden. Kami butuh dukungan dana untuk beli pupuk dan tenaga kerja supaya lahan ini terisi,” ujar Nikson, Jumat (16/10).
Lahan seluas 20 hektare tersebut rencananya akan ditanami komoditas hortikultura dan buah-buahan.
“Yang kami tanam nanti lombok, rica, bawang, tomat, buah-buahan seperti semangka, melon dan buah-buahan lainnya,” katanya.
Ia menyebut lahan tersebut berpotensi diperluas hingga lebih dari 30 hektare jika ada dukungan anggaran.
“Ada sekitar 20 hektare, kalau ada dana dan dukungan tenaga kerja kami akan perluas lagi. Mungkin bisa 30 hektare lebih, semua akan kami kerjakan,” tuturnya.
Nikson mengungkapkan, Dinas Pertanian Provinsi Papua telah melakukan kunjungan dan menyatakan siap mendukung bantuan alat pertanian, traktor hingga bibit.
“Mereka mendukung masalah alat, traktor, bibit. Kami berharap ke pusat dari Bapak Presiden bantu kami, hanya dana saja kami butuh,” ungkapnya.
Selain pertanian, ia juga meminta masyarakat yang memiliki ternak agar dikandangkan dan tidak dibiarkan berkeliaran di pemukiman.
“Masyarakat yang punya ternak itu segera dikandangkan, jangan berkeliaran dari rumah ke rumah. Kami di kampung ini mau jadi contoh untuk lahan pertanian,” tegasnya.
Dukungan serupa datang dari Ondofolo Kampung Puay, Yakob Fiobetauw. Ia menyatakan kesiapan masyarakat adat menyediakan lahan hingga 100 hektare.
“Seperti yang disampaikan Ondofolo Nikson Marweri dari Kampung Kwadeware, kami di Papua khususnya di Sentani ketersediaan lahan itu sangat banyak. Cuma tinggal mohon ada bimbingan atau dukungan dari pemerintah untuk memanfaatkan potensi lahan yang luas ini,” ujar Yakob.
Menurut Yakob, dukungan pemerintah pusat maupun daerah sangat diharapkan para pemimpin adat di tingkat kampung agar potensi alam dapat dikelola maksimal guna menunjang program ketahanan pangan nasional.
Ia menilai hasil pertanian tersebut juga dapat menyuplai program strategis pemerintah lainnya, seperti program Makan Bergizi Gratis (MBG).
“Program makan gizi gratis itu juga bisa kami suplai hasil-hasil dari program ketahanan pangan ini untuk dapur-dapur guna menunjang gizi penerus bangsa,” ujarnya.
“Dimulai dari Kuwadeware oleh Bapak Nikson Marweri, saya di Puay juga sudah menyiapkan lahan sekitar 100 hektare. Kami siap mendukung program pemerintah apabila ada bantuan atau pendampingan dari pusat maupun daerah,” pungkas Yakob.
(Yan Mofu)











